Socamedia - Sunaryo: Dari Titik Nadir ke Lawangkala

Sunaryo: Dari Titik Nadir ke Lawangkala

  • Posted on Oct 11, 2018
  • Fine Arts
  • By Soca Editorial
Bukan rahasia lagi bahwa Kota Bandung dikenal sebagai penggerak wacana dan industri seni di Indonesia. Banyak seniman lahir dan meniti karir di kota ini. Ruang demi ruang hadir di kota ini menjadi infrastruktur utama penggerak roda kesenian dan mempengaruhi perkembangan wacana di Indonesia. Salah satu ruang yang sangat berpengaruh adalah Selasar Sunaryo Art Space atau biasa disingkat SSAS.

Sunaryo Art Space telah dibuka untuk umum sejak September 1998. SSAS merupakan realisasi dari impian pria kelahiran Banyumas pada tahun 1943 itu untuk mendukung perkembangan seni rupa di Indonesia. Selasar menggambarkan sebuah area terbuka yang menyambungkan ruangan menuju ruangan lainnya untuk mempertemukan karya seni pada audiensinya.

Pada tahun ini Selasar Sunaryo Art Space (SSAS) tepat merayakan 20 tahun. Terhitung ratusan pameran dan program sudah diproduksi dan disponsori oleh Selasar Sunaryo. Menyangkut hal itu kami berkesempatan untuk mewawancarai Bapak Sunayo selaku pemilik dan pendiri Selasar Sunaryo Art Space. Berikut hasil wawancara kami :
 
Apa yang melatar belakangi berdirinya Selasar Sunaryo Art Space?
Sebenarnya sejak saya masih kuliah di seni rupa berangan-angan ada semacam ruang publik dimana terjadi pertemuan antara seniman-seniman dan komunitas seni sehingga merupakan suatu kehangatan, sejak muda di halaman itu saya selalu bermimpi untuk menaruh patung-patung supaya orang bisa lihat karena itu saya bikin selasar. Selasar itu jika hanya menjadi galeri terlalu komersial, museum itu sesuatu yang berhenti, makanya saya mengatakan selasar saja.

Apakah itu Selasar Sunaryo juga merupakan studio pribadi?
Waktu itu saya belum punya pikiran sampai kesana cuman bagaimana caranya agar saya betah. Selasar itu semacam open corridor, prinsip ini saya ambil. Untuk ini saya punya 2 program, yang pertama bandung dari dulu sebagai kota yang modern, artinya kita membuat program bandung emergence supaya tidak bandung sentris saya juga bikin transit bisa dari bandung, jakarta, yogya. Terbuka. Dan disini bisa otodidak tidak perlu akademik agar saling melengkapi

Melihat perkembangan selasar, apakah program BNE dan Transit cukup berpengaruh ke khazanah seni rupa?
Waktu saya masuk ke selasar tahun 1998, waktu itu masih sendiri. Waktu saya ke Jakarta itu teman - teman saya bilang “orang bandung pameran disini dong” dan mereka memberikan saya list-list nama, sama halnya seperti di Yogya, masih sedikit. Kalo sekarang jika saya ke Singapore atau Hong Kong, disana event kesenian yang bagus dari Bandung, mereka mulai mengenal bahwa Bandung itu banyak potensi. Dan mereka melihatnya pernah ikutan ke BNE atau pameran di Selasar. Di BNE atau selasar, kebebasan untuk membicakan kesenian tidak terbatas dan tidak membuang banyak waktu. Dalam waktu 4 bulan itu kita bisa mendatangkan ahli, dan melakukan mapping terhadap seni rupa di Indonesia, bagaimana konstelasi seni rupa indonesia terhadap dunia, dan sikap seniman dalam berkesenian. Mereka dibekali ilmu apa yang mereka perlukan. Sehingga lebih efisien dalam menggunakan waktu.

Apakah pameran ruang & waktu menandakan perubahan dalam program selasar?
Dalam perjalanan, saya di dampingi dewan kurator dan team selalu kasih komentar. Menghadapi 20 tahun itu, saya baru sadar jika saya jarang pameran tunggal. Karena apa? Mungkin selain waktu itu terlalu cepat, saya terlalu memikirkan program dan bikin lupa. Karena tiap-tiap program itu memerlukan banyak energi, biaya, dan waktu. Katakanlah tiap tahun kita menjalankan 15 program, jadi kurang lebih kita sudah menjalankan 300 program. Apa yang harus dipamerkan, bagaimana cara publikasi, dll. Sebelumnya saya berbicara tentang keabadian di Wot Batu, ini merupakan satu karya ungkapan saya pribadi yang boleh dikatakan total dalam kehidupan. Wot Batu muncul selama 20 tahun ini saya terpikir untuk “Bagaimana dengan saya sendiri?” di trigger juga oleh Bandung kota wisata dan pendidikan, tetapi orang datang kesini bermacet ria lebih banyak ke mall, outlet atau kuliner. Jadi ini sebenernya budaya konsumtif. Jika saya melihat peradaban, belum sadar tentang kehidupan di dunia ini. Karena ada ini saya bikin Wot Batu yang disana lebih spiritual, walaupun kecil. Mungkin tidak berlebihan jika saya bikin catatan kecil tentang peradaban sekarang ini.

Suatu saat, Wot Batu akan ditutup oleh abu vulkanik, jika di gali dan menemukan bebatuan oleh orang yang lebih pintar daripada kita. Ini adalah karya seni seorang seniman jaman modern. Makanya saya tandai dengan sidik jari. Sidik jari pada akhir abad 19, jaman Punawarman itu tapak kaki, ini dengan sidik jari. Sekalipun saat ini sudah ada DNA, dan retina. Sidik jari saya pilih karena guratan dan artistik secara visual. Disana simbolik sekali dan sudah digitalized. Waku 20 tahun ini saya pikir selasar itu aktivitasnya selalu ingin menjawab hari ini. Apa yang ingin dipamerkan oleh anak muda disini dan di belahan dunia lainnya itu hampir sama, dinamis sekali. Selalu berubah, karena kehidupan itu selalu berubah. Seni adalah refleksi dari kehidupan.

Di Wot Batu saya bekukan, diam. Dengan kesadaran saya sendiri mengenai selasar yang dinamik, bicara tentang waktu. Waktu di seni rupa itu ada sequence, karena panjang di Selasar, saya berpikir ingin bikin lorong. Makanya di Wot Batu itu abadi, di selasar kefanaan. Wot Batu, keras, batu. Selasar itu kefanaan, bambu, kertas. Problem eksekusi nya saya 20 tahun melihat Selasar ingin saat orang masuk kesana mereka disorientasi untuk menggambarkan betapa kita itu kecil, hanya numpang lewat dan sekedar numpang minum *tertawa* makanya ada lorong, dan air. Makanya di kehidupan jika orang sudah hidup 100 tahun kalau kita sudah masuk ke lorong itu dengan sistem ada waktu dan hukum sebab akibat. Jadi kita harus bersyukur, dengan sentuhan indera pendengaran, penciuman dengan bau bambu, meraba tekstur, semuanya coba disentuh.

Lawang Kala bisa disebut manifestasi dari Selasar?
Pertanyaannya adalah kenapa saya membuat itu? Kita mau bicara apa dari pameran ini? Pada tahun 1998, saat terjadi riot di Jakarta saya pameran saya dibungkus dan lagi teriak di dalam bungkusan itu. Sekarang saya rasakan, apakah saya keluar dari bungkus itu setelah 20 tahun. Akhirnya saya menambal dan menjahit, itu suatu sikap sementara. Indonesia sekarang keadaannya seperti itu, menjahit dan menambal. Di dalam berkesenian saya ingin memberi ruang kepada pengamat dengan kadarnya masing-masing.

Menurut bapak mengenai perkembangan seni rupa di indonesia (Bandung, Yogyakarta)?
Seni rupa ITB itu perkembangannya cukup dominan sehingga menjadi orientasi kesenian, seni rupa Bandung dulu jaman belanda yang membawa ilmu barat yang analitis sehingga mahasiswanya menjadi analitik, modalnya adalah membaca dan melihat ke luar. Menjadi pengaruh sehingga dalam perkaryaan selalu konsepnya apa. Di Yogya dengan feeling. Seniman dari kedua kota itu melebur di ranah internasional tapi basic-nya masih kadang kelihatan di Yogya itu skill penting, bandung skill itu optional lebih konseptual. Yogya: bagaimana mereka memindahkan bentuk, lebih hangat dalam sosial. Bandung: bagaimana cara mereka menganalisa, lebih individual.

Pesan untuk seniman muda agar konsisten?
Sekarang jamannya kita masuk hutan informasi, senjata untuk melihat hutan itu adalah bertanya pada diri sendiri “saya itu paling cocok apa?” mengenal diri sendiri dan lebih berani dalam meilih karena tawaran itu banyak sekali. Kita bikin susah payah eh sudah ada di internet. Dengan sebegitu luasnya info, kita harus unik secara konsep dan visual, bukan bentuk saja tapi juga teknik. Kita mencari sikap yang unik yang lain tidak pernah menekuni. Konsistensi itu jika dihayati akan muncul.
Author

Soca Editorial

Related Artikel