Socamedia - Rebranding: Sebuah Proses Pembaharuan

Rebranding: Sebuah Proses Pembaharuan

  • Posted on Sep 13, 2018
  • Insight
  • By Soca Editorial
Dunia industri dan bisnis berkembang dari waktu ke waktu dan melindas setiap elemen yang tidak siap dengan perubahan. Persaingan semakin ketat dan kompetitor semakin mempertajam ruang kompetisi dengan menghadirkan produk-produk yang mirip bahkan menyempurnakan yang sudah ada. Produk yang tidak mampu membaca peta perubahan dan pergeseran persaingan bisnis dengan melakukan penyesuaian strategi bisnis akan tertinggal.

Salah satu contohnya adalah suatu produk atau perusahaan yang jika tidak berubah dalam waktu yang lama maka pembeli atau klien akan bosan, tidak melihat adanya inovasi, dan dapat berpindah ke produk pesaing yang mungkin sudah melakukan perubahan. Karena itu, perubahan dalam suatu perusahaan terhadap produknya perlu dilakukan, dan salah satu perubahan yang perlu diakukan adalah dengan melakukan rebranding produk.

Rebranding pada produk atau perusahaan dapat mempresentasikan perubahan dan pembaruan dalam beberapa hal di produk atau perusahaan tersebut. Rebranding dapat dilakukan dengan berbagai macam tidak hanya terbatas pada rebranding logo ataupun perubahan tagline iklan tetapi juga dapat dilakukan dengan diferensiasi produk. Upaya pendahuluan yang dilakukan oleh perusahaan yang akan melakukan rebranding adalah dengan melakukan riset yang mendalam akan kebutuhan pasar dan riset keinginan konsumen. Proses evaluasi produk yang diluncurkan harus dikaji dan dianalisis agar semakin dibutuhkan dan disukai oleh konsumen.

Wacana rebranding pada awalnya muncul pada dekade 1980-an, wacana tersebut menyatakan bahwa brand adalah aset, memiliki ekuitas dan menggerakkan strategi serta performa bisnis. Konsepsi brand sebagai aset menimbulkan arus perubahan yang dramatis dan besar pengaruhnya, mengubah persepsi pemasaran dan manajemen brand, bagaimana brand seharusnya dikelola dan diukur, dan peran para eksekutif pemasaran.  

David Aaker dalam buku Manging brand Equity: Capitalizing on The Value of a Brand Name, menjelaskan konsep rebranding adalah suatu usaha komunikasi pemasaran yang dilakukan untuk memberikan suatu kepribadian baru kepada brand atau produk melalui perubahan tampilan dalam atau luarnya. Kegiatan rebranding bagi perusahaan adalah sebuah keniscayaan yang harus dilakukan. Sekuat apapun posisi perusahaan tetaplah suatu saat harus melakukan rebranding baik karena faktor internal ataupun karena tekanan eksternal atau kompetitor.

Proses Rebranding

Berdasarkan wawancara dengan Bayurengga Mauludy, salah satu founder POT Branding House, dalam proses rebranding ada tiga perspektif yang harus diperhatikan. Yang pertama adalah perspektif owner, karena owner adalah pendiri dan perumus awal branding sebuah perusahaan. Yang kedua adalah perspektif bisnis dari perusahaannya, hal ini meliputi pergerakan dan peluang dari bisnisnya sendiri. Yang ketiga adalah perspektif dari customer. "Karena dalam proses rebranding yang dibutuhkan adalah sikap netral, sehingga ketiga perspektif tersebut harus dicari pada tahap awal proses rebranding. Baru setelah ketiga perspektif tersebut didapatkan, kita bisa menarik dan mulai merancang branding baru." Ujar Bayu.

Selain memperhatikan dan melakukan riset tentang 3 perspektif tersebut, Bayu menambahkan bahwa sebelum melakukan proses rebranding, sebuah konsultan harus terlebih dahulu mengetahui jenis branding awal perusahaan tersebut. Hal ini agar tidak terjadi kesalahan metode yang mebuat sebuah rebranding menjadi gagal.

Bayu menjelaskan ada empat approach dalam branding yang harus diketahui. Pertama adalah purpose based brand, pendekatan ini menitikberatkan pada tujuan atau misi dari sebuah perusahaan. Kedua adalah story based brand, pendekatan ini mencoba membangun sebuah brand identity dari latar belakang berdirinya perusahaan, sebagai contoh adalah Dropbox. Ketiga adalah function based brand, proses pendekatan pada function based brand lebih menitikberatkan pada penyelesaian sebuah masalah. Berbeda dengan purpose dan story yang mengeksplorasi pengalaman, brand jenis ini mengacu pada pola pikir permasalahan - solusi yang menghasilkan sebuah fungsi tertentu. Yang terakhir ada ego based brand, biasanya menitikberatkan semua pemikiran seorang owner atau creative director sehingga semua wacana yang dihasilkan perusahaannya berasal dari kemauan pribadi mereka. Brand jenis ini seringkali dijumpai dalam dunia fashion.   

Akhir kata, urgensi rebranding pada perusahaan bisa dilakukan dengan cara merubah mindset (pola pikir) dikalangan internal bahwa brand adalah aset yang sangat berharga. Sebuah aset perusahaan yang harus dijaga, dipertahankan nilai-nilainya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kebutuhan konsumen. Untuk memenangkan persaingan pasar nilai-nilai ekuitas brand harus dikelola dengan terencana, strategis dan mampu menjawab tantangan ekspektasi konsumen.
Author

Soca Editorial

Related Artikel