Socamedia - Penentuan Harga Karya Seni

Penentuan Harga Karya Seni

  • Posted on May 14, 2018
  • Fine Arts
  • By Soca Editorial

Apa yang pertama kali terlintas ketika mendengar kata karya seni? Lukisan? Film? Atau sebuah benda yang akhir - akhir ini menjadi background foto agar terlihat hits? Hampir di setiap tempat bisa menemukan hasil-hasil karya seni. Karya seni merupakan produk proses kegiatan manusia atas dasar kemampuan kreatif. Secara umum terdapat beberapa macam seni, yakni antara lain seni rupa, seni musik, seni tari, seni teater dan seni sastra. Karya seni merupakan sebuah benda atau artefak yang dapat dilihat, didengar atau dilihat dan sekaligus didengar (visual, audio, dan audio-visual), seperti lukisan, musik dan teater.

Akan tetapi, yang disebut seni itu berada di luar benda seni, sebab seni itu berupa nilai. Sesuatu yang disebut indah, baik, adil, sederhana, dan bahagia itu adalah nilai. Sesuatu yang oleh seseorang disebut indah dapat tidak indah bagi orang lain. Nilai itu sifatnya subjektif, yaitu berupa tanggapan individu terhadap sesuatu (disini, benda seni atau objek seni) berdasarkan pengalaman dan pengetahuannya. Tanggapan individu terhadap suatu benda seni akan membangkitkan kualitas nilai tertentu sesuai dengan nilai-nilai seni yang dikenal dan dialami individu tertentu.

Dalam perjalanan umat manusia, karya seni tidak semata-mata dibuat sebagai sebuah ungkapan rasa, karya seni tersebut mempunyai fungsi sosial dengan mempertimbangkan aspek para spektator atau penikmat seni. Oleh karena itu, maka munculah apa yang disebut sebagai seni komersil. Sebuah karya komersil dibuat berdasarkan selera pasar yang mana tidak terbatas pada umur, latar belakang sosial maupun wawasan seseorang terhadap seni. Walaupun karya seni itu bersifat komersil, namun unsur estetis yang terkandung didalamnya tidak sepenuhnya terabaikan.

Nilai komersil dalam seni?

Pada umumnya, sebuah karya seni khususnya seni rupa merupakan gambaran atau ungkapan ekspresi dari seorang perupa. Para seniman dapat secara bebas mengekspresikan diri dalam lukisan, sehingga suatu karya yang dihasilkan memiliki nilai estetika yang tinggi. Bagi penikmat seni, sebuah karya merupakan keindahan yang menimbulkan decak kagum, sehingga tidak jarang para kolektor sanggup mengeluarkan sejumlah uang yang tidak sedikit hanya untuk memiliki karya yang mencuri perhatiannya. Oleh karena itu, meskipun tidak memperhatikan nilai guna, karya seni rupa merupakan salah satu karya seni yang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Secara umum, nilai suatu produk ditentukan berdasarkan besarnya biaya produksi yang dibutuhkan. Namun, pada beberapa produk tertentu nilai yang diberikan jauh melebihi biaya produksinya. Produk karya seni seperti lukisan merupakan salah satu contoh produk yang memiliki nilai jual jauh di atas biaya produksi. Secara simbolis, karya seni memiliki nilai tambah lain yang melebihi produk secara fisik. Terdapat faktor-faktor lain di luar biaya produksi yang diperhitungkan dalam menentukan nilai suatu karya seni.

Menurut Bob Edrian,  secara simbolis, karya seni memiliki nilai tambah lain yang melebihi produk secara fisik. Terdapat faktor-faktor lain di luar biaya produksi yang memiliki nilai dan diperhitungkan dalam menentukan harga jual. Bob menjelaskan bahwa terdapat beberapa faktor yang mempengaruhi harga produk seni rupa, antara lain nama perupa, subyek karya, ukuran, dan gaya. Faktor-faktor tersebut tidak dapat diperhitungkan atau diukur dalam proses memproduksi karya seni secara fisik, namun memberikan dampak pada besar kecilnya harga yang ditawarkan oleh perupa.

Faktor-faktor penentuan harga yang tidak terukur disebut sebagai faktor intangible. Istilah intangible dipahami sebagai non-monetary profit yang memberikan value diluar produk itu sendiri. Aset intangible merupakan representasi dari reputasi, brand, dan atribut lain yang memungkinkan untuk memperoleh pendapatan yang lebih besar. Pentingnya faktor intangible dalam kaitannya dengan penentuan harga produk mendorong beberapa penelitian untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi penentuan harga selain biaya produksi.

Berdasarkan beberapa penelitian, intangible factors untuk produk-produk functional terdiri dari brand dan kualitas. Di sisi lain, analisis penentuan harga untuk kategori produk non-functional seperti obyek produk karya seni. Faktor intangible pada karya seni terdiri dari faktor seniman, produk, dan tempat penjualan. Bob juga menjelaskan kolektor biasanya tidak hanya tertarik atas karya nya semata tetapi juga atas cerita di balik terciptanya atau bahkan ‘perjalanan’ karya tersebut termasuk filosofi yang mendasari proses penciptaannya hingga sejarah hidup sang perupa. Semakin banyak yang diketahui calon pembeli maka pembeli akan semakin mengenal sang perupa sehingga semakin besar peluang untuk tercapainya kesepakatan harga.

 

Author

Soca Editorial

Related Artikel