Socamedia - OFF THE WALL: Pandangan Baru dalam Street Art

OFF THE WALL: Pandangan Baru dalam Street Art

  • Posted on May 21, 2018
  • Fine Arts
  • By Soca Editorial

Tentu kalian pernah melihat coretan atau gambar yang ada di tembok jalanan, ya itu adalah street art. Di Indonesia Street Art identik dengan graffiti dan mural, meskipun di beberapa negara ketiga nama ini mengandung arti yang berbeda tergantung dari tema dan desain yang dibuat dan dihasilkan.

Street Art biasanya dibuat menggunakan spray, cat tembok atau cat kayu dan media pendukung lainnya seperti kapur, masking tape, dll yang dapat menghasilkan sebuah gambar. Selain itu karya street art identik dengan tembok di jalan raya, di rumah-rumah tua tak berpenghuni atau lahan kosong. Di dalamnya tidak hanya menawarkan gambar yang indah secara estetik, tapi juga kadang pesan yang menggelitik, karena memuat kritik. Tapi bagaimana jika visual ala street art dipamerkan di galeri, layaknya seni pada umumnya? Hal ini bisa kita jumpai di event "OFF THE WALL" yang digagas oleh IFI dan Yello Hotel.

Ricky Arnold, selaku Direktur kebudayaan Institut Francais Indonesia, menjelaskan bahwa acara ini acap kali dilakukan di Jakarta, yang di inisiai oleh IFI dan Yello Hotel. Acara ini dimaksudkan untuk membuka kemungkinan kolaborasi visual dari seniman Indonesia dan Eropa. Acara ini diikuti oleh 4 seniman mancanegara -  Ceet, Julien Soone (Pra), Markus Genesius (Jer), Rebecca O’Brien (USA) dan 4 seniman Indonesia – Stereoflow, OlderPlus, Yellow Dino and Andre 14. Ricky. "Konsepnya mereka melakukan mural terlebih dahulu di Yello Hotel, selanjutnya mereka membuat karya berukuran sebesar kanvas yang dipamerkan di IFI.” Tutur Ricky.

(Lihat juga : #SOCABERBINCANG OFF THE WALL: Pandangan Baru dalam Street Art ).

Lebih lanjut Ricky menjelaskan pemilihan seniman sendiri dilakukan oleh kurator Claire Thibaud-Piton dengan cara menarik benang merah kekaryaan serta gaya estetik setiap seniman, seperti  Ceet Fouad yang objek visualnya yang bertemakan ayam sengaja disandingkan dengan Yellow Dino dengan objek visualnya bertemakan dinosaurus. Untuk target acara sendiri, Ricky menjelaskan bahwa “OFF THE WALL” mencoba memberi pandangan baru tentang street art pada masyarakat Indonesia terutama anak muda. Hal ini dilakukan dengan cara melakukan workshop dengan Sekolah International Perancis yang ada di Jakarta.  

Gebrakan mereka di dalam event telah berhasil menggeser street art yang biasanya tampak liar di tembok jalan menjadi karya seni yang kini mengisi ruang yang biasanya dihuni oleh lukisan dan seni instalasi. Sebagai sebuah fenomenal dan seni urban baru, goresan di dinding yang mereka hadirkan menjadi aksi penting dan memberi makna tersendiri. Utamanya terhadap posisi street art dalam dunia seni.  Pergeseran street art ini, bagaimanapun, menjadi menarik untuk diikuti. Ke depan, rasanya tak akan lagi mengherankan jika mendapati goresan graffiti yang menghias dinding-dinding di dalam ruang (tak lagi jalanan), entah itu di galeri, hotel, atau museum.

Author

Soca Editorial

Related Artikel