Socamedia - Mengapresiasi Sebuah Karya Seni

Mengapresiasi Sebuah Karya Seni

  • Posted on May 30, 2018
  • Fine Arts
  • By Soca Editorial
Beberapa hari kebelakang sebuah berita yang muncul di media sosial cukup membuat terkejut. Berita itu menjelaskan bagaimana sebuah karya seni lepas dari tempat yang seharusnya karena ulah apresiator yang sibuk berfoto untuk mendapatkan citra di media sosial masing - masing. Tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah mereka sebenarnya mengetahui ada aturan untuk menikmati karya seni?

Menghargai atau mengapresiasi bisa dimaknai menghormati keberadaan, harkat, dan martabat orang lain. Menghargai hasil karya orang lain artinya menghormati hasil usaha, ciptaan, dan pemikiran orang lain. Menurut Soedarsono, mengerti dan menyadari sepenuhnya seluk-beluk sesuatu hasil seni serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetikanya sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut dengan semestinya.

Mungkin semua definisi diatas tampak kompleks dan agak membingungkan. Padahal nyatanya dalam kehidupan sehari-hari, secara sadar atau tidak sadar, banyak orang yang sebetulnya melakukan apresiasi pada tingkat tertentu. Membaca komik, menonton film, memilih sepatu yang cocok dengan keinginannya, dan lain-lain. 

Terkadang setelah puas dan suka dengan film yang telah ditontonnya orang akan menceritakan resensi atau bagian terbaik dari film tersebut kepada temannya. Secara tidak sadar telah terjadi apresiasi tingkat yang lebih lanjut yaitu menciptakan kembali karya seni yang telah dinikmatinya dengan berbagai persepsi dan penafsiran unik dari apresiator.

Sebenarnya tidak perlu bingung dengan arti dari apresiasi seni. Pada akhirnya apresiasi berarti menikmati karya seni dengan sepenuh hati. Apresiasi mungkin saja melibatkan penafsiran lebih dari bagian menarik yang kita inginkan, tapi tetap tidak mendapatkan beban untuk menilai atau mengungkap kelebihan dan kekurangan pada karya tersebut seperti pada kajian dan kritik seni.

Terkadang kurikulum seni pada institusi pendidikan akan menjemukan karena apresiasi seni rupa disetarakan dengan kajian atau kritik yang sebetulnya diperuntukan kepada pemerhati seni.
Apresiasi berasal dari Bahasa Latin, “appretiatius” yang artinya penghargaan atau penilaian terhadap sesuatu. Kita juga mengenal “appreciate” dalam Bahasa Inggris yang berarti melihat, menentukan nilai, menikmati, menyadari keindahan, serta menghayati sesuatu. Sedangkan, seni adalah sesuatu yang memiliki nilai keindahan atau estetika dan diciptakan oleh manusia—biasanya disebut dengan karya seni. Seseorang yang sedang melakukan apresiasi biasanya disebut apresiator.

Namun, apakah seni sama seperti seni rupa? Tidak. Seni rupa sendiri adalah cabang seni yang membentuk karya seni dengan media yang dapat dilihat oleh mata dan dapat dirasakan dengan sentuhan. Seni rupa juga dapat diartikan sebagai karya seni yang diciptakan suatu objek dengan kriteria tertentu seperti konsep garis, bidang, bentuk, tekstur, warna, bahkan pencahayaannya dengan acuan estetika—sehingga seni rupa ini dapat dinikmati menggunakan indera mata dan peraba. Sedangkan, pencipta seni biasanya disebut dengan seniman.
 
Maka, dapat diartikan bahwa apresiasi seni rupa merupakan suatu bentuk pengakuan, penghargaan, atau penilaian untuk sebuah karya seni berupa objek yang dapat dinikmati dengan melihat dan merasakannya.

Namun, untuk mengapresiasi suatu karya seni rupa perlu memperhatikan unsur-unsur seperti tema, gaya, teknik, dan komposisi. Untuk mengapresiasi seni juga tidak dengan hanya menilai suatu karya seni saja, tapi dapat mengapresiasi sesuatu yang ada di sekitar kita.
 
Dalam mengapresiasi karya seni rupa secara garis besar terdapat dua cara yang dapat dilakukan, yaitu dengan menggunakan takaran subjektif, yaitu menilai bagus tidaknya berdasarkan pertimbangan pendapat pribadi. Penilaian kedua adalah dengan ukuran objektif yaitu, menilai bagus tidaknya karya seni atas dasar ukuran kenyataan dan objek karya seni rupa itu sendiri.

Bila karyanya memiliki ukuran secara objektif bagus, maka kita katakan bagus. Begitu juga sebaliknya. Terkadang subjektivitas akan menghalangi kita untuk mengambil nilai dari karya seni. Jika hal tersebut terjadi coba hilangkan subjektivitas kita dan arungi karya tersebut melalui objeknya. Penilaian objektif membutuhkan pengetahuan tentang dasar-dasar seni rupa seperti unsur unsur seni rupa dan prinsip prinsip seni rupa.

Menurut Brent G. Wilson dalam bukunya yang berjudul Evaluation of Learning in Art Education, apresiasi sendiri memiliki 3 konteks utama. Apresiasi terhadap karya seni sendiri dapat dibedakan menjadi tiga jenis,
  • Apresiasi empatik, yaitu menilai atau menghargai suatu karya seni yang dapat ditangkap dengan sebatas indrawi saja
  • Apresiasi estetis, yaitu menilai atau menghargai suatu karya seni dengan melibatkan pengamatan dan penghayatan yang mendalam
  • Apresiasi kritik, yaitu menilai atau menghargai suatu karya seni dengan melibatkan klasifikasi, deskripsi, analisis, tafsiran, dan evaluasi serta menyimpulkan hasil penilaian atau penghargaannya. Apresiasi yang satu ini dapat dilakukan dengan mengamati suatu benda secara langsung dan nyata
Dari sense of beauty atau rasa keindahan yang diberikan oleh Sang Pencipta untuk manusia, apresiasi seni rupa berbeda dari setiap individu yang menilai suatu karya seni tersebut. Apresiasi yang diberikan juga tidak melulu bernilai positif saja, kadang bisa juga bernilai negatif. Namun, mengapa ada apresiasi seni rupa?

Tujuan seseorang melakukan apresiasi seni rupa adalah menjadikan masyarakat agar tahu apa, bagaimana, dan alasan dari karya seni tersebut diciptakan. Maka, dapat disimpulkan bahwa agar masyarakat dapat menanggapi, menghayati, dan menilai suatu karya. Tujuan lain dari apresiasi seni rupa adalah untuk mengembangkan nilai estetika dari suatu karya seni, serta mengembangkan kreasi dan untuk suatu penyempurnaan hidup.
Author

Soca Editorial

Related Artikel