Socamedia - Melani W Setiawan : Cerita seorang pengarsip seni

Melani W Setiawan : Cerita seorang pengarsip seni

  • Posted on Jul 17, 2018
  • Fine Arts
  • By Soca Editorial
Kesenian merupakan cerminan dari perkembangan sejarah suatu bangsa dan kebudayaan kontemporer yang mengikutinya. Arsip seni visual adalah salah satu cara untuk berefleksi, menganalisa dan menerjemahkan perubahan sosial. Karenanya seni merupakan penggerak kultural dalam perkembangan budaya dan dinamika sosial masyarakat.

Maka dari itu kegiatan seni merupakan bagian penting dalam perkembangan sejarah hingga perlu adanya pengarsipan. Kegiatan pengarsipan juga sangat bermanfaat bagi perkembangan seniman muda, karena fungsi dari arsip sendiri adalah sebagai media pembelajaran. Seorang pengarsip juga haruslah memiliki pengetahuan meliputi wacana dan praktik dalam keilmuannya, sehingga bisa mengarsipkan dengan sangat baik.

Berkembangnya teknologi membuat beberapa hal dalam pengarsipan berubah. Salah satunya bagaimana pengarsipan beralih kedalam dunia digital dengan memanfaatkan platform media sosial seperti Instagram. Hal tersebut dilakukan oleh Melani W Setiawan atau lebih akrab disapa Ibu Melani. Beliau adalah seorang dokter yang memiliki kecintaan pada dunia Seni Rupa. Kurang lebih Melani Setiawan sudah mengunjungi ratusan pameran, galeri , dan studio. Kesenangannya pada dunia seni itu membawanya masuk ke dalam dunia pengarsipan seni.

Berikut adalah wawancara tim Socamedia dengan Melani Setiawan, seputar kecintaannya pada dunia seni rupa, arsip, dan saran untuk seniman muda.

Pendapat Ibu tentang perkembangan seni di Indonesia?

Saya rasa yang saya amati selama 40 tahun ini sangat berkembang, walaupun itu masih perlahan. Jika di lukis tidak ada perkembangan yang signifikan, sedangkan di new media tentu berkembang karena itu tergantung teknologi. Kita memang tidak sejauh negara barat ataupun di asia seperti Korea dan Jepang itu karena ketergantungan teknologinya bukan karena artisnya. Kita tidak mempunyai kesempatan yang luas dan tinggi untuk mendapatkan teknologinya.

Ibu terkenal sebagai salah satu pengarsip dalam dunia Seni Rupa, apa yang melatar belakangi ibu terjun ke dalam dunia seni rupa?

Dari kecil saya suka simpan seperti foto-foto dari TK hingga Universitas. Ayah saya pelatih sepak bola, Endang Witarsa, tiket nonton film naik sepeda bareng Ayah saya dan masih saya simpan. Di seni rupa juga begitu, kebetulan pekerjaan saya adalah dokter hampir dari pagi hingga sore habis untuk bekerja. Sisa sisanya untuk seni rupa, sebagai keseimbangan hidup.

Bagaimana menurut ibu perihal pengarsipan seni di indonesia? Dan sepenting apakah itu?

Sangat penting untuk pendidikan dan  pengetahuan. Saat ini orang sudah mulai aware dengan pentingnya pengarsipan, misal dengan adanya IVAA. Juga institusi swastika secara mandiri sudah mulai melakukan pengarsipan. Tetapi secara umum pengarsipan di Indonesia masih kurang.

Apa yang membuat seniman muda bisa bertahan dalam dunia seni rupa?

Saya menyadari bahwa kehidupan seniman di awal sangat berat, kalau bisa jangan menggantungkan income hidup dari seni rupa dulu biasanya cukup berat jadi harus ada sambilan lain. Jika di seni rupa lebih kuat, pelan pelan kita bisa lepas hal sambilan ini.

Bagaimana pendapat ibu tentang pergerakan kolektif seni? Apakah itu salah satu faktor untuk seniman bertahan di dunia seni rupa Indonesia?

Saya kira itu baik apalagi di Indonesia mengatur diri sendiri itu agak lemah jadi yang diharapkan dengan kolektif ini bisa ada yang mengatur dengan lebih profesional dan lebih baik dan untuk membuat networking keluar itu lebih gampang daripada kita sendiri karena mereka sering kali jika artist residency secara private atau personal itu kan susah. Jadi jika ada ini lebih gampang. Tapi tentunya akan bermanfaat jika diatur dengan lebih baik, kalau amburadul ya amburadul saja.

Apakah idealisme dibutuhkan atau harus mengikuti pasar?

Musti ada idealisme tapi jangan idealisme yang ngawur, kalau sampai mengikuti pasar juga salah. Bukannya anti tapi kita pelajari dulu pasarnya lagi begini, direfleksikan ke diri kita apakah itu sesuai, tapi jangan memaksakan harus mengikuti itu. Saya rasa jika kita maksa untuk ngikutin itu juga tidak akan memberikan karya yang luar biasa. Jadi kita harus mempelajari dan riset yang pas untuk diri kita sendiri. Kenalilah diri sendiri dulu, kita maunya apa, saya kira itu akan lebih murni dan gampang di aplikasikan.

Saran untuk seniman muda?

Saya memikirkan secara rasional aja, jangan membayangkan harus menjadi seniman yang established seperti di luar sana karena jika kita lihat seniman yang established itu sedikit sekali dan berat. Bisa ada 2 hal, kita terpengaruh untuk semangat atau kita jadi jatuh. Saran saya adalah apapun itu, tidak hanya di seni rupa juga kita harus selalu berkerja keras jika kita mempunyai satu tujuan yang baik itu akan lebih positif jadi tidak perlu berfikir kita harus established biar kita bisa jualan kalau ada pikiran atau beban seperti itu saya rasa berkerja nya jadi tidak alamiah. Kerja keras bisa dari berbagai sudut, dari segi waktu kita harus disiplin kita juga harus belajar dan rendah hati. Selain berkerja ya belajar, tidak pernah kita mencapai titik kita luar biasa selalu ada yang lain yang lebih dari kita.
Author

Soca Editorial

Related Artikel