Socamedia - Jelekong: Desa para Pelukis

Jelekong: Desa para Pelukis

  • Posted on Aug 13, 2018
  • Fine Arts
  • By Soca Editorial
Pernahkah kalian melihat lukisan yang berjajar di sepanjang Jalan Braga? Ciri khas lukisan ini bisa dilihat dari objeknya yang serupa, baik itu berupa pemandangan alam yang umumnya berbentuk area persawahan dengan kombinasi sawah, sungai dan gunung, atau berupa hutan lebat yang ada air terjunnya. Selain itu terdapat juga objek lainnya yang disukai pasar seperti lukisan aneka bunga di pot, buah-buahan, ikan koi, ikan arwana, burung, kuda, lukisan bercorak abstrak, dan dekoratif.

Semua lukisan tersebut berasal dari satu tempat yang sama yaitu Desa Jelekong. Desa tersebut berasal dari daerah Bandung Selatan. Jaraknya sekitar 12 km dan bisa ditempuh dalam waktu 1 jam. Wilayah ini masuk ke dalam Kecamatan Bale Endah, Kabupaten Bandung. Lokasi ini bisa dicapai dengan melewati ruas Jalan Kopo ke arah Majalaya yang dikenal cukup padat.

Jelekong sendiri namanya sudah terkenal sejak zaman Belanda. Sebagai gambaran pada masa setelah penjajahan jumlah pelukis mencapai 600 orang. Di sini juga sempat berdiri banyak galeri lukisan, jumlahnya lebih dari 20 buah. Namun sayangnya kondisi sekarang sudah berubah, tidak banyak lagi seperti dulu. Sudah banyak galeri dan rumah yang dulunya menjual lukisan kini sudah berubah menjadi warung atau toko yang menjual kebutuhan rumah tangga. Hanya tersisa beberapa pedagang yang masih eksis menjual lukisan.

Desa Jelekong selalu menjadi pusat perhatian bagi wisatawan. Hal ini disebabkan karena harga lukisan yang dijual di sini relatif murah, sangat berbeda kalau sudah dipajang di Jalan Braga, apalagi kalau sudah masuk ke galeri ternama. Memang tidak semua lukisan di Jelekong adalah lukisan masal dan murahan, ada juga lukisan yang mempunyai nilai jual tinggi dan sangat berkualitas, namun hanya bisa dihitung dengan jari.

Sebagai gambaran, lukisan berbagai objek tanpa bingkai dengan ukuran kecil biasanya dijual dengan harga kisaran 15.000 - 25.000 rupiah. Lukisan berukuran sedang dijual dengan harga sekitar 50.000 - 75.000 rupiah. Sementara ukuran besar dijual dengan harga 150.000 - 250.000 rupiah. Sementara itu khusus untuk lukisan tertentu dari pelukis yang sudah punya nama dan biasa memajang karyanya di galeri, harganya lebih tinggi yaitu berkisar dari Rp.1.500.000-Rp.7.000.000 untuk ukuran 2m x 1m.

Tetapi proses komersialisasi itu menimbulkan juga efek negatif, salah satunya adalah fenomena tengkulak. Tengkulak atau calo berperan menghubungkan pelukis dengan pembeli. Mereka tidak segan menyalip pelanggan dan menawar harga lukisan sangat rendah. Banyak pelukis yang akhirnya terjebak pada permainan tengkulak. Situasi ini menimbulkan terjadinya saling banting harga lukisan, fenomena melukis kilat demi uang dan bajak-membajak calon pembeli. Seniman pemilik sanggar seni Paint Art Mandiri, Jaenudin mengatakan, kondisi tersebut berdampak negatif bagi masa depan seni lukis Jelekong. Banyak pelukis pemula yang justru berorientasi uang daripada proses berkesenian.

Jika kondisi itu terus dibiarkan, Ia khawatir masa depan lukisan Jelekong akan suram. "Saya khawatir Jelekong hanya jadi industri lukisan yang menempatkan proses seni di urutan terakhir", katanya. Padahal, sambung pelukis dengan titel Jayabaya ini, pendahulu mereka Odin Rohbidin sudah mewanti-wanti bahwa melukis bukan sembarang pekerjaan, tidak bisa dikerjakan asal-asalan, apalagi hanya demi uang. Abah Odin mengajarkan, membuat lukisan harus mengutamakan proses dan nilai seni daripada hasil. Ajaran ini tentu masih dipegang oleh seniman di sini, kata sepupu Abah Odin ini.

Tidak hanya sebatas Seni Lukis

Jelekong sebenarnya tidak hanya dikenal sebagai sentra lukisan, namun juga sebagai gudangnya pedalang wayang golek yang andal. Tercatat nama seniman besar Asep Sunandar Sunarya, seorang dalang wayang golek yang sangat terkenal pernah dilahirkan disini. Jika anda ingin melihat kesenian wayang golek, datang saja ke ke RW 1, Kampung Giriharja. Lokasinya sekitar 500 meter dari kantor kelurahan Jelekong. Menurutnya, salah satu solusi untuk mengatasi kondisi itu adalah dengan membentuk koperasi yang menaungi para pelukis Jelekong. Koperasi yang nantinya mengatur harga lukisan. Selain itu, praktek tengkulak yang mematikan proses kreatif seniman harus segera dihentikan.

Saat ini koperasi tersebut dapat dikatakan sudah kurang begitu aktif karena sebagian besar para pelukis sudah memiliki galeri sendiri. Para pembeli dapat langsung membeli ke galeri tersebut ataupun dapat memesannya via telepon atau email. Jumlah galeri di Jelekong sekitar 20 buah dan pada setiap galeri rata - rata memiliki pelanggan (dapat dikatakan) tetap, meskipun para pelanggan tidak mutlak hanya membeli lukisan pada satu galeri saja. Apalagi dengan mayoritas jenis lukisan yang sama (pemandangan) akan sangat sulit bagi pembeli memilih lukisan yang sangat menarik atau memiliki kekhasan tersendiri.

Keterkaitan antara industri dan kebudayaan seperti halnya yang dilakukan oleh para seniman di Kelurahan Jelekong jelas memerlukan perhatian yang lebih dalam upaya untuk memberdayakan kembali sisi kreativitas masyarakat dalam memproduksi hasil karya budaya daerah. Sebuah langkah yang signifikan harus segera dilaksanakan mengingat pemerintah jauh tertinggal oleh para LSM yang telah lebih dahulu membantu para seniman di Kelurahan Jelekong.
Author

Soca Editorial

Related Artikel