Socamedia - Jais Darga: Seni Merupakan Kekuatan Ekonomi yang Luar Biasa

Jais Darga: Seni Merupakan Kekuatan Ekonomi yang Luar Biasa

  • Posted on May 17, 2018
  • Fine Arts
  • By Soca Editorial

Membicarakan pasar seni rupa di Indonesia, sama saja seperti mebicarakan pergerakan ombak di lautan. Pergerakannya terus berada dalam fluktuasi. Pengaruh ekonomi dan politik global pun memberikan efek dominonya pada proses komodifikasi seni rupa. Karya seni yang bagi kaum elitis merupakan sebuah produk budaya yang memiliki nilai estetika tersendiri pada awalnya, dan kemudian dikembangkan melalui komodifikasi seni rupa yang berdampak pada penyematan nilai tanda dan citra. 

Secara ringkas, seni rupa kemudian tidak hanya berkutat pada proses kreasi atau artistik seniman sebagai pusatnya, namun pula dikaitkan dengan proses yang lebih rumit, yakni produksi, distribusi dan konsumsi. Pranata sosial yang berbasis pada prinsip tersebut kemudian terdiferensiasikan menjadi sejumlah agen seni rupa disamping seniman seperti kurator, kolektor, art dealerart broker, galeris, balai lelang, kritikus, dll. Salah satu art dealer yang namannya cukup mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional adalah Jais Darga. Beliau adalah art dealer perempuan pertama Indonesia yang malang melintang di industri (bisnis) seni rupa selama lebih dari 30 tahun. 

Ambisi pribadinya yang bergelora, serta insting bisnisnya yang luar biasa menempatkan Jais dalam lingkaran elit pialang lukisan kelas dunia. Dua (di antara sekian banyak) hal bersejarah dan prestisius yang pernah dilakukan Jais dalam kaitannya dengan upaya mewarnai perkembangan seni rupa Indonesia antara lain, memamerkan karya-karya legenda pop art Jean Michel Basquiat di Bali pada 2005; serta menyandingkan karya-karya maestro seni rupa Indonesia seperti Affandi, S. Sudjojono, Jeihan, Srihadi Soedarsono, Antonio Blanco, Made Wianta, Ida Bagus Made, dan Arie Smit dengan karya-karya oldmaster dunia seperti Pablo Picasso, Henri Matisse, Pierre-Auguste Renoir, Jean-Baptiste Camille Corot, George Braque, Tsuguharu Foujita, Fernand Léger, dan lain-lain melalui pameran fenomenal “Modern Master of Indonesia and Europe” beberapa tahun sebelumnya.

Berdasarkan wawancara dengan Jais Darga, awal pertemuannya dengan art dealer  karena kebiasaan dia sejak dulu ia memang suka membeli lukisan dari teman-temannya. Tak jarang, ia diberi sebagai tanda pertemanan karena Jais orang yang sangat baik, spontan, menyenangkan, sekaligus teman bicara yang paham dunia mereka. Sesekali juga ia dipinjami lukisan untuk diletakkan di rumahnya yang luas dan banyak tamu. Sampai suatu kali, seorang teman asing menyukai salah satu koleksi lukisan dan ingin membelinya. “Karena aku dekat dengan pelukisnya, ya sudah nanti aku bisa bilang atau minta lagi, dan ternyata itulah ihwal aku terjun menjadi art dealer.” Ia sendiri terjun sebagai art dealer professional di awal tahun 1980-an, bermula dari koleksi pribadi hingga masuk ke galeri yang lebih besar. Ia lalu mendirikan galeri di Bali, Darga Gallery, yang masih eksis hingga kini. Lalu membuat pameran, setapak demi setapak, dari kecil hingga besar,  sambil meluaskan pasar dari Jakarta dan Bali, menuju Singapura dan Australia awal 1990-an.

“Menjadi art dealer perempuan masa itu sangat berat karena dunia ini dimonopoli oleh kaum lelaki. Faktor kedua, saya orang Asia, orang berpikir mungkin saya orang Filipina atau Thailand, atau mungkin masih dianggap sebagai kelas dua,” kisahnya. Persoalan ini belum termasuk mengatasi rasa iri atau cemburu dari perempuan lain – mengingat para kolektor kebanyakan berjenis kelamin pria. Namun ia bilang sudah kenyang makan asam garam soal ini. 

“Saya harus tunjukkan siapa diri saya, melalui kemampuan saya, pengetahuan saya, wawasan saya, dan akhirnya juga modal saya.'' Jais Darga.

Selain membawa karya Basquiat, gebrakan paling awal yang dia lakukan adalah dengan dengan melakukan bidding lukisan Tsuguhara Foujita seharga 800 ribu frank di sebuah lelang besar di Paris pada tahun 1995. Bila dihitung dengan kurs sekarang – nilainya kurang lebih sebesar Rp. 11,5 milyar rupiah. Peristiwa ini memang membuat banyak art dealer menengokkan kepada pada seorang perempuan Asia yang duduk di deretan kursi pertama. 

Gebrakan yang Jais lakukan ini memang tidak berhenti sampai di sana. Ia terus memasuki lelang-lelang seni rupa bergengsi, berkenalan dengan para kolektor, art dealer, menambah wawasannya tentang seni rupa internasional, dan terus “keep in touch” dengan dunia seni rupa dunia. Dari Paris ia menuju London, New York, hingga ia mendapatkan klien kolektor tingkat dunia. 

Art Dealer : Posisinya Kini

Pada wawancara ini, Jais Darga mengatakan untuk menjadi seorang art dealer  kita harus mempunyai sikap dan tentunya modal. Modal disini bukan mengacu pada uang saja, tetapi modal pengetahuan tentang ruang lingkup seni rupa (baik itu wacananya maupun tentang karyanya). Perlu dicermati pada karya seni itu ialah kualitasnya. Jangan hanya memperhatikan kuantitasnya. Pada kualitas itulah posisi kekuatan ekonomi Indonesia yang sebenarnya. Semua pihak dari masyarakat sampai wakil rakyat, eksekutif di pemerintahan maupun dalam perusahaan, harus dapat memahami kekuatan jiwa karya seni tadi, kualitasnya tadi, dan itu harus diletakkan sebagai kekuatan jiwa bangsa Indonesia, sekaligus mampu menjadi kekuatan ekonomi yang luar biasa.

"Sederhananya begini, kita harus mampu berpola-pikir dan bertingkah laku yang strategis dengan berorientasi melahirkan produk kreatif. Kita juga harus mampu memahami orientasi manajemen kreatif, marketing kreatif, promosi kreatif, dan presentasi kreatif, sehingga nilai ekonomi yang didapatkan akan bernilai sangat tinggi dan sangat besar." tutur Jais. 

Berkaca pada pengalaman Jais Darga, menjadi seorang art dealer  khususnya di Indonesia adalah penyokong utama dalam keberlangsungan praktik seni. Posisi ini tidak serta merta dilematis, tidak semua agen pasar memiliki tendensi untuk menjadikan seni sebagia lahan usaha dengan tidak mengindahkan nilai-nilai kultural yang terkandung di dalamnya. 

Author

Soca Editorial

Related Artikel