Socamedia - ICADARTURA #9 : "KISAH"

ICADARTURA #9 : "KISAH"

  • Posted on Oct 24, 2018
  • Insight
  • By Soca Editorial
Sebuah acara seni yang perjalanannya berhasil menghadirkan warna baru dalam kancah seni rupa Indonesia kembali diadakan. Acara yang bernama Indonesia Contemporary Art & Design atau biasa disingkat ICAD kembali hadir untuk yang ke 9 kalinya. Mengusung tema “KISAH”, Indonesian Contemporary Art & Design (ICAD) 2018 digelar dari 18 Oktober hingga 30 November 2018 di Grandkemang Hotel, Jakarta. Tahun ini menjadi ketiga kalinya Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) mendukung perhelatan yang menghadirkan karya-karya seniman dan desainer yang diadakan oleh Yayasan Design+Art Indonesia.

Berbicara tentang tema, menurut kurator pameran Hafiz Rancajale, kisah selalu membangun peradaban, “kami memilih tema yang unik dan spesifik sebagai konstruksi estetik yang dapat dituangkan ke dalam suatu karya,” ujarnya. Kali ini, melalui tema KISAH, ICAD menampilkan karya-karya yang lebih personal, berupa buah pikiran atau rekam jejak pengalaman para seniman dan desainer dalam proses berkarya. Karya-karya seni hadir sebagai cara mengeskpresikan sebuah pemikiran, gejolak rasa atau interaksi emosional antara seniman dengan karya mereka. Pada ICAD 2018 ini Hafiz Rancajale dan Harry Purwanto bertindak sebagai kurator.

Berkolaborasi dengan pelaku kreatif dari berbagai disiplin ilmu, menjadikan ICAD ke-9 ini menjadi semakin kaya, di antaranya Irawan Karseno (pelukis), Ruby Roesly (arsitek), Tatang Ramadhan (perancang grafis), Joshua Simandjuntak (desainer produk), White Shoes and The Couples Company (pemusik), Milisifilem Collective (kolektif perupa/filmmaker), PM Toh (penyair), Hikmat Darmawan (komikus), dan puluhan pelaku kreatif lain. Pada ICAD 2018 ini Hafiz Rancajale dan Harry Purwanto bertindak sebagai kurator. Tidak hanya karya anak bangsa, ICAD tahun ini juga menampilkan karya dari desainer asal Belgia, Joris Vanbriel dan Vanessa Yuan (ecoBirdy). Karya-karya ecoBirdy selalu mendayagunakan bahan daur ulang, dan mengedepankan ide untuk berkontribusi bagi lingkungan dan pendidikan. ICAD 2018 juga menampilkan pertunjukan kontemporer, ‘Kisah Batik’ oleh desainer Amanda Hartanto yang berkolaborasi dengan PM Toh.

Even ICAD juga seringkali hadir dengan wacana site - spesific, hal tesebut didasari oleh ruang pameran yang bersatu dengan lobby dari Grand Kemang sendiri. "Kami tidak mengubah ruang. Lobi tetap sebagai lobi, lorong tetap menjadi lorong, dan kamar menjadi kamar. Karena di situlah tantangan buat kami dan para senimannya," tutur Hafiz saat jumpa pers di grandKemang Hotel Jakarta. Dia pun menambahkan, "Saya selalu menjelaskan kondisi ruang, gimana pengunjung yang datang tidak seperti ruang pameran. Itu juga yang selalu kamu coba tantang."

Karya-karya ke-50 seniman ada yang dua dimensi, tiga dimensi, instalasi, patung, sampai karya kinetik yang memiliki sensor. "Ada karya yang memang fungsinya bisa duduki. Rancangan itulah yang membuat pengunjung untuk berinteraksi," kata Hafiz. "ICAD juga terhubung dengan banyak bidang. Musik, dunia kepenulisan, film dan memang sangat luas. ketika diletakkan menjadi ruang yang cair, itu yang kami tawarkan pada partisipan," lanjutnya lagi.

Selain menampilkan karya seni, ICAD 2018 juga menghadirkan beberapa tokoh kreatif yang akan berbagi wawasan dalam 3 konvensi terpisah. Film workshop, menghadirkan 2 produser film sebagai pembicara; Jon Kuyper (production executive film The Hunger Games) dan Mira Lesmana. Workshop ini bekerjasama dengan MPA dan APROFI. Forum seni dan budaya, bekerjasama dengan Koalisi Seni Indonesia, akan berlangsung selama 3 hari, membahas strategi kebudayaan nasional dalam lingkup arsitektur dan tata kota, produk dan kerajinan, serta seni visual. Sementara konvensi desain bekerjasama dengan British Council, akan mengangkat tema ‘Kisah Komik’, menghadirkan Paul Gravett, penulis asal Inggris dan Iwan Gunawan. Seluruh peserta dan pengunjung pada program ini dapat hadir tanpa dipungut biaya.
Author

Soca Editorial

Related Artikel