Socamedia - Berbincang Tentang Distribusi Digital dan Perkembangan Film Indonesia Bersama Riri Riza

Berbincang Tentang Distribusi Digital dan Perkembangan Film Indonesia Bersama Riri Riza

Ingatkah kita tentang sebuah film yang menggambarkan percintaan sepasang remaja yang dibalut syair-syair puitis? Atau ingatkah kita tentang film yang menceritakan tentang petualangan seorang gadis cilik yang menyelamatkan kawannya dari penculikan? Ya, pertanyaan di atas mengingatkan kita pada  dua film Indonesia  di awal tahun 2000an. Film tersebut juga berhasil membuka mata masyarakat bahwa karya yang dihasilkan para sineas muda tidak kalah atau justru lebih berkualitas dibanding film - film luar negeri. Salah satu sineas muda yang menjadi "aktor" kebangkitan film di Indonesia tersebut adalah Mohammad Rivai Riza atau akrab dipanggil Riri Riza

Riri Riza adalah seorang sutradara, penulis naskah, produser film. Karya film yang diproduksinya meliputi film dokumenter, video klip, iklan layanan masyarakat dan film layar lebar. Dalam beberapa tahun terakhir ini ia kerap kali disandingkan dengan sahabat sekaligus rekan sesame sineas, Mira Lesmana dalam berbagai proyek filmnya. Ia dianggap sebagai salah satu motor dari kemajuan film Indonesia di awal tahun 2000. Sebagai sutradara kawakan dalam dunia perfilman Indonesia, Riri dikenal akan kemampuannya menggebrak batas-batas genre konvensional sekaligus meraih kesuksesan layar lebar.

Bertepatan dengan even Paragon Innovation Summit, kami mendapatkan kesempatan berbincang dengan Riri Riza seputar dunia film, dari mulai distribusi digital hingga perkembangan film saat ini. Berikut hasil wawancara kami :

Menurut mas Riri, bagaimana perkembangan film di Indonesia saat ini?
Sebenarnya kita ada di sebuah masa yang menarik dimana film Indonesia menjadi inklusif atau lebih terbuka terhadap inovasi. Dilihat dari sisi pasar, film - film di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Di tahun ini saja sudah ada kurang lebih 10 film yang menembus 1 juta penonton. Selain itu pada beberapa festival internasional, film - film Indonesia banyak juga yang mendapat apresiasi baik di kancah internasional. Hal ini menunjukan perkembangan yang  positif baik dari pasar dan kualitas bagi  film Indonesia.

Fenomena terbaru adalah digitalisasi media yang sudah mulai muncul dikalangan sineas saat ini. Keterlibatan investor dari wilayah bisnis digital turut membangun wacana digitalisasi media. Salah satunya platform Go - studio, yang dimiliki oleh perusahaan Go-Jek. Beberapa film, termasuk film saya seperti Kulari ke Pantai, Aruna dan lidahnya, serta Sultan Agung garapan Garin Nugroho, adalah beberapa contoh film yang sudah disupport secara dana oleh platform milik Go-Jek tersebut. Hal ini menurut saya akan membawa revolusi di wilayah distribusi digital.

Jadi ketika ditanya bagaimana perkembangan film di Indonesia, saya rasa industri film di Indonesia sedang dalam tahap beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital itu sendiri.

Membicarakan era digital, munculnya iflix atau platform streaming film, apakah itu cukup merubah orientasi budaya sinema itu sendiri?
Iflix, HOOX, dan yang lainnya tentu saja memberi kemungkinan baru bahwa kita tidak hanya bergantung dari bioskop. Hal itu jika ingin dimanfaatkan adalah hal yang baik, karena kita bisa membuat dan mempertontonkan film di luar pola - pola umum dari sinematografi.

Apakah support platform distribusi digital seperti Go - Studio itu hanya terbatas pada wilayah film - film arus utama atau "mainstream"?
Saya rasa tidak, sebenarnya yang perlu disadari adalah setiap alur distribusi mempunyai polanya tersendiri. Kalau zaman dulu distribusi major atau mainstream, pola - pola nya itu misalnya ada bintang terkenal, ceritanya dibuat oleh novelis terkenal, semuanya mesti serba terkenal. Pada saat ini, saya rasa kemungkinan itu lebih luas karena pola - pola digital sendiri membuka kemungkinan - kemungkinan produksi yang berbeda.

Menurut mas Riri munculnya platform literasi film seperti kineforum, sinema kolekan, dan kineruku, apakah itu cukup membantu sineas - sineas muda?
Saya rasa penting, dan saya rasa sangat membantu. Bisa dikatakan itu sebuah perlawanan, ibaratnya melahirkan kesadaran yang cukup luas tentang kuasa terhadap arus yang kita inginkan. Dengan adanya kantung - kantung komunitas kecil itu, justru dapat memberi pendidikan kepada masyarakat tentang berbagai kemungkinan yang hadir dalam dunia film.

Apakah pesan dan harapan mas Riri  terhadap para sineas muda di Indonesia?
Pendidikan atau proses belajar itu sangatlah penting, kita harus tetap belajar untuk menghasilkan karya yang lebih baik. Banyak yang berkata belajar itu berbarengan dengan proses produksi saja, saya rasa itu kurang tepat. Kita harus menginvestasi waktu kita untuk mengikuti workshop, atau bahkan belajar mengorganisir melalui komunitas - komunitas di atas. Dan kita harus menyadari bahwa film itu merupakan proses belajar terhadap pasar itu sendiri. Kita harus menyadari bahwa film itu adalah pasar, bukan hanya asik sendiri membuat film untuk 5 - 10 orang teman kita. Kita harus sadar bahwa film itu milik masyarakat luas dan kita harus memberi peluang lebih terhadap pembangunan gagasan sehingga kesadaran itu terbentuk.
Author

Soca Editorial

Related Artikel